Postingan

Menampilkan postingan dengan label Catatan Hidupku

– Surat Terakhir untuk Yoona, dan Diriku Sendiri

Gambar
"Terima kasih karena telah menjadi alasan aku bertahan. Tapi sekarang… aku ingin bertahan karena diriku sendiri." Untuk Yoona… Aku tidak tahu apakah surat ini akan sampai padamu. Mungkin tidak. Tapi menuliskannya saja sudah cukup menenangkan. Dulu, aku ingin kamu tahu bahwa aku ada. Sekarang, aku ingin kamu tahu bahwa aku tumbuh. Bukan karena kamu menyelamatkanku. Tapi karena kamu menjadi pengingat bahwa manusia pun bisa menjadi perantara cahaya. Aku tidak tahu bagaimana hidupmu sebenarnya. Tapi aku percaya, kamu juga pernah merasa gelap. Dan justru karena itu, kamu bisa menciptakan sesuatu yang menyentuh begitu banyak orang, termasuk aku. Kini, aku ingin jadi seperti itu juga. Tidak harus bersinar paling terang, tapi cukup menjadi cahaya bagi satu orang yang hampir padam. Terima kasih, Yoona. Untuk keberanianmu menjadi dirimu sendiri. Untuk semua lagu, kata, dan sikap tenangmu yang mendidik tanpa menggurui. Jika suatu hari kita bertemu — entah sebagai siapa — aku harap kita ...

– Antara Aku, Allah, dan Jalan yang Kutempuh

Gambar
"Segala hal yang hilang… sebenarnya sedang diarahkan kembali kepada-Nya." Aku sudah berkali-kali kehilangan. Ayah. Kakek. Rasa aman. Bahkan kepercayaan terhadap diriku sendiri pun pernah hilang. Tapi semakin aku jatuh, semakin aku sadar: Allah tidak pernah benar-benar meninggalkanku. Aku hanya yang terlalu sibuk mencari pelukan di luar, sampai lupa bahwa tempat paling tenang adalah sujud. Dan di titik paling gelap dalam hidupku, ketika aku bahkan sempat menyakiti tubuhku sendiri… ada satu suara yang tetap bertahan: suara lantunan ayat yang dulu sering kubaca bersama Nenek. Allah tidak pernah berteriak agar aku kembali. Dia hanya menunggu. Dengan sabar. Dengan lembut. Dengan cara yang tidak manusia manapun bisa lakukan. Lewat lagu-lagu yang tiba-tiba menenangkan. Lewat air mata di malam-malam yang aku pikir hampa. Lewat teman-teman baru yang seperti dikirim dari langit. Dan kadang… lewat kalimatku sendiri yang kutulis tanpa sadar — tapi terasa seperti doa yang ditulis balik ol...

– Saat Aku Mulai Dilihat Bukan Sekadar Fans

Gambar
  "Aku tidak ingin sekadar berada di dekat mereka. Aku ingin mereka tahu… aku tumbuh karena mereka." Ada bagian dari diriku yang masih gadis kecil. Yang berdebar setiap kali melihat cuplikan konser. Yang berkhayal bisa ketemu langsung, ngobrol sebentar, atau hanya cukup dilirik dan diingat. Dan aku tidak malu mengakuinya. Tapi semakin aku dewasa, semakin aku tahu… aku tidak ingin hanya menjadi penonton. Aku ingin berdiri di atas panggungku sendiri. Entah sebagai penulis, pustakawan, pendidik, atau apa pun nanti yang Allah kehendaki. Aku ingin punya ruang, punya suara, dan suatu hari… punya pertemuan yang tidak lagi satu arah. Dulu aku suka bilang ke diriku sendiri: "Bayangkan kalau Biasmu tahu kamu ada." Tapi sekarang, aku lebih suka bilang: "Bayangkan kalau kamu bisa berdiri di depannya, dan dia tersenyum — bukan karena kamu penggemar, tapi karena kamu seseorang yang layak dia hargai." Bukan karena kamu cantik. Bukan karena kamu viral. Tapi karena kamu me...

– Saat Kata-Kata Menjadi Rumah Bagi Orang Lain

Gambar
"Aku tidak menulis karena aku pandai berkata-kata. Aku menulis karena aku pernah kehilangan suara." Awalnya, aku menulis untuk bertahan. Menulis agar isi kepalaku tidak meledak. Agar luka-luka di dalam diriku tidak berubah jadi racun yang merusak semuanya. Agar aku bisa menyampaikan rasa tanpa harus menjelaskan semuanya pada dunia yang terlalu ramai. Tapi suatu hari aku sadar… mungkin ada orang lain di luar sana, yang merasa sepertiku. Yang duduk diam di kamarnya sendiri. Yang menangis di dalam kamar mandi, lalu keluar dengan senyum palsu. Yang sudah lupa caranya bicara jujur karena takut tak ada yang mau mendengar. Dan mungkin… tulisan-tulisanku bisa menjadi jembatan. Untuk menghubungkan mereka dengan harapan yang pernah kutemukan. Untuk menyampaikan bahwa: "Hei, kamu tidak sendirian. Aku pun pernah ada di sana." Aku ingin menulis bukan sebagai orang yang sudah sembuh, tapi sebagai orang yang masih berdarah, tapi tetap jalan. Karena aku percaya: luka tidak harus hi...

– Kalau Aku Bisa Bicara Kepada Diriku di Masa Depan

Gambar
"Aku menulis surat ini, bukan untuk memastikan semuanya akan baik-baik saja. Tapi untuk mengingatkanmu bahwa kamu sudah sampai sejauh ini." Hai, Yuta. Apa kabarmu di masa depan? Apakah kamu sudah lulus? Sudah di Jepang? Sudah bertemu teman-teman baru? Atau mungkin kamu sedang di perpustakaan, menyusun arsip, sambil sesekali tersenyum karena teringat masa-masa kamu dulu menulis ini dengan air mata? Aku tidak tahu di mana kamu saat ini, tapi aku harap kamu masih menjaga hafalanmu. Aku harap kamu masih berpegang pada cinta Allah, bahkan saat dunia berubah. Dan aku harap… kamu masih menulis. Karena dulu, satu-satunya yang membuatku bertahan adalah: keyakinan bahwa kamu — versi masa depan ini — sedang menungguku. Menungguku untuk tidak menyerah. Menungguku untuk terus melangkah. Kalau suatu hari kamu merasa lelah, ingat ya: kamu pernah bertahan saat hidupmu gelap dan hancur. Kamu pernah menangis sendirian di kamar, sambil berbisik ke Allah, "Aku capek, tapi aku tahu Engkau ma...

– Rencana yang Kupeluk Diam-Diam

Gambar
"Beberapa mimpi tak perlu teriak keras-keras. Mereka tumbuh diam-diam, tapi tak bisa dihentikan." Aku mulai menyusun mimpi, pelan-pelan. Tidak untuk dipamerkan. Tapi untuk kupeluk dalam hati. Karena aku tahu, tidak semua orang mengerti kenapa aku masih berani bermimpi… padahal hidup saja belum tentu stabil. Aku ingin lanjut kuliah. Ke Jepang, mungkin. Atau Korea. Tapi Jepang terasa lebih mungkin. Bukan karena aku ingin kabur, tapi karena aku ingin membuktikan bahwa anak perempuan broken home pun berhak ke luar negeri — bukan untuk liburan, tapi untuk belajar, bekerja, dan bangkit. Bukan ingin lari dari luka. Tapi ingin menjemput versi terbaik dari diri ini. Yang lebih tangguh. Lebih lembut. Dan lebih yakin, bahwa masa lalu tidak bisa menghapus masa depan. Aku ingin hidup yang sibuk, tapi berkah. Pagi-pagi hafalan. Siang kuliah. Sore kerja sambilan. Malam? Menulis. Menyapa diriku sendiri. Murojaah sambil menangis pelan-pelan. Lalu esok harinya, mengulang semuanya… bukan karena...

– Apa Artinya Pulang?

Gambar
"Kadang pulang bukan ke rumah, tapi ke dirimu yang dulu hilang." Dulu aku pikir, rumah adalah tempat di mana ada orang tua lengkap, dapur hangat, dan ruang tamu yang ramai di hari libur. Tapi hidup mengajariku sesuatu yang lain. Rumah ternyata… bisa menjadi tempat paling dingin, bahkan saat lampunya menyala. Rumah bisa jadi tempat kamu ingin pergi, bukan kembali. Aku pernah duduk di ruang makan tapi merasa tidak ada yang benar-benar melihatku. Aku pernah berada di dalam rumah yang lengkap secara bangunan, tapi kosong secara perasaan. Dan saat itu aku mulai mengerti: rumah bukan tempat. Tapi rasa. Dan sejak itu, aku berhenti mengaitkan "rumah" dengan bangunan. Karena bagiku, rumah bisa sesederhana: – Doa Nenek waktu Subuh. – Senyum Ibu walau lelah. – Al-Qur’an yang menunggu dibuka. – Atau, selembar catatan di dinding kamar bertuliskan: “Hari ini kamu hebat karena tidak menyerah.” Aku mulai membangun rumahku sendiri. Dalam diriku. Sedikit demi sedikit. Aku menata ulan...

– Saat Aku Memilih Bertumbuh

Gambar
"Kita tidak bisa memilih masa lalu. Tapi kita bisa memilih apakah kita tetap tinggal di dalamnya." Hidup tidak langsung membaik setelah aku mulai menghafal. Masalah masih ada. Aku tetap harus cari uang sendiri. Aku tetap tinggal bersama Ibu yang juga terus berjuang. Tapi ada sesuatu yang mulai berubah: cara pandangku terhadap hidup. Aku mulai merasa… mungkin aku bisa menciptakan jalan sendiri. Mungkin aku tidak harus jadi "anak korban" selamanya. Mungkin aku bisa memilih bertumbuh — bukan hanya untuk mengejar mimpi, tapi untuk menunaikan cinta kepada Ibu yang tak pernah berhenti berjuang untukku. Setelah masa gap year yang sunyi dan penuh pertanyaan, aku memutuskan untuk daftar kuliah. Modalnya? Keberanian. Dan sedikit sekali uang tabungan yang kukumpulkan sendiri. Aku daftar di jurusan Perpustakaan dan Sains Informasi . Banyak yang mencibir, bahkan yang dekat denganku pun sempat bertanya, "Itu jurusan apa? Bisa jadi apa?" Tapi aku tahu alasanku. Bagi seb...

– Bertemu Kalam-Nya

Gambar
"Terkadang, bukan kamu yang mencari cahaya. Tapi cahaya yang datang menghampiri saat kamu paling gelap." Waktu itu aku sedang tidak mencari Tuhan. Aku sedang sibuk bertahan. Sibuk menahan tangis. Sibuk menyembunyikan luka-luka yang tak terlihat. Aku tidak sedang merasa dekat dengan apa pun yang suci. Tapi ternyata… justru pada saat seperti itu, Allah memelukku duluan. Aku mulai membuka mushaf karena tidak tahu harus bagaimana. Bukan karena aku rajin. Bukan karena aku alim. Tapi karena aku ingin menyibukkan diri dengan sesuatu yang tidak menyakitiku balik. Satu ayat. Dua ayat. Lalu entah bagaimana, aku merasa… kalimat-kalimat itu sedang berbicara langsung padaku. Bukan untuk menasihati, tapi untuk menenangkan. Seperti suara halus yang berkata: "Aku tahu kamu lelah. Tapi Aku selalu di sini." Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku menangis bukan karena luka… tapi karena haru. Ternyata ada sesuatu yang bisa menyentuh hatiku tanpa menyakitinya. Dan sejak mala...

– Rumah yang Tak Pernah Utuh

Gambar
"Some people are born in houses. Others spend their lives searching for what 'home' really means." Aku lahir dari keluarga yang tidak pernah benar-benar utuh. Bahkan sebelum aku sempat menyebut kata “Ayah”, beliau sudah menikah lagi — dan sejak itu, hidup kami berjalan di dua dunia yang berbeda: satu di mana beliau membangun keluarga barunya, dan satu lagi di mana aku harus belajar untuk tidak bertanya tentangnya. Ibuku tidak punya banyak pilihan. Beliau harus merantau, bekerja, menanggung semuanya seorang diri. Bukan cuma untuk aku — tapi juga untuk kedua orang tuanya, yang sudah lanjut usia. Karena itulah, sejak kecil aku dibesarkan oleh Nenek dan Kakek. Rumah kami tenang. Tapi juga sunyi. Aku tumbuh dengan doa dan pengorbanan — bukan dengan pelukan dan kebersamaan. Lalu suatu hari, Ibu menikah lagi. Kupikir mungkin kehidupan kami akan berubah. Mungkin aku akan punya sosok ayah. Tapi ternyata, yang datang bukan ayah… hanya seseorang yang tinggal di rumah kami, tapi ...