– Kalau Aku Bisa Bicara Kepada Diriku di Masa Depan


"Aku menulis surat ini, bukan untuk memastikan semuanya akan baik-baik saja. Tapi untuk mengingatkanmu bahwa kamu sudah sampai sejauh ini."



Hai, Yuta.
Apa kabarmu di masa depan?

Apakah kamu sudah lulus? Sudah di Jepang? Sudah bertemu teman-teman baru?
Atau mungkin kamu sedang di perpustakaan, menyusun arsip, sambil sesekali tersenyum karena teringat masa-masa kamu dulu menulis ini dengan air mata?

Aku tidak tahu di mana kamu saat ini,
tapi aku harap kamu masih menjaga hafalanmu.
Aku harap kamu masih berpegang pada cinta Allah, bahkan saat dunia berubah.
Dan aku harap… kamu masih menulis.

Karena dulu, satu-satunya yang membuatku bertahan adalah:
keyakinan bahwa kamu — versi masa depan ini — sedang menungguku.
Menungguku untuk tidak menyerah.
Menungguku untuk terus melangkah.


Kalau suatu hari kamu merasa lelah,
ingat ya: kamu pernah bertahan saat hidupmu gelap dan hancur.
Kamu pernah menangis sendirian di kamar, sambil berbisik ke Allah,
"Aku capek, tapi aku tahu Engkau masih bersamaku."

Dan kamu pernah berharap… suatu hari kamu bisa hidup seperti Yoona:
diam-diam berdampak, pelan-pelan tumbuh.
Maka, sekarang pun — kalau kamu jatuh — tidak apa-apa.
Kamu hanya perlu bangkit lagi.
Seperti yang selalu kamu lakukan.


Jangan lupa… kamu bukan produk dari luka saja.
Kamu adalah hasil dari doa, dari pengampunan, dan dari banyak keputusan kecil untuk tetap hidup.

Dan kalau kamu masih belum sampai pada mimpimu, tidak masalah.
Karena prosesmu itu indah.
Dan kamu pantas dicintai, bahkan ketika kamu belum jadi siapa-siapa.



📍 Catatan Hari Ini:
"Untuk diriku di masa depan:
Semoga kamu tidak lupa bahwa kamu dicintai oleh Allah lebih dulu — bahkan sebelum kamu mencintai dirimu sendiri."


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Menyadari Sesuatu tentang "Kuat"

– Rumah yang Tak Pernah Utuh

– Saat Aku Memilih Bertumbuh