– Saat Aku Memilih Bertumbuh
"Kita tidak bisa memilih masa lalu. Tapi kita bisa memilih apakah kita tetap tinggal di dalamnya."
Hidup tidak langsung membaik setelah aku mulai menghafal.
Masalah masih ada. Aku tetap harus cari uang sendiri. Aku tetap tinggal bersama Ibu yang juga terus berjuang. Tapi ada sesuatu yang mulai berubah: cara pandangku terhadap hidup.
Aku mulai merasa… mungkin aku bisa menciptakan jalan sendiri.
Mungkin aku tidak harus jadi "anak korban" selamanya.
Mungkin aku bisa memilih bertumbuh — bukan hanya untuk mengejar mimpi, tapi untuk menunaikan cinta kepada Ibu yang tak pernah berhenti berjuang untukku.
Setelah masa gap year yang sunyi dan penuh pertanyaan, aku memutuskan untuk daftar kuliah.
Modalnya? Keberanian. Dan sedikit sekali uang tabungan yang kukumpulkan sendiri.
Aku daftar di jurusan Perpustakaan dan Sains Informasi.
Banyak yang mencibir, bahkan yang dekat denganku pun sempat bertanya, "Itu jurusan apa? Bisa jadi apa?"
Tapi aku tahu alasanku.
Bagi sebagian orang, ilmu itu hak yang mudah diakses. Tapi bagiku, ilmu adalah kemewahan yang harus diperjuangkan.
Dan aku ingin memastikan, ada lebih banyak anak seperti aku yang tidak bisa mengakses ilmu — bahkan jika mereka tinggal di sudut kota, atau dibesarkan dalam sunyi seperti aku.
Aku ingin jadi jembatan.
Karena aku tahu rasanya tumbuh tanpa jaringan. Belajar dari buku lusuh. Bertanya tapi tak ada yang menjawab.
Dan aku ingin menjadi orang yang menjawab itu — meskipun satu orang, satu kata, satu halaman.
Hari-hariku sekarang padat. Tapi aku tidak keberatan.
Pagi-pagi aku bangun lebih awal untuk murojaah.
Siangnya kuliah. Kadang sambil ngerjain kerja lepas. Malamnya kembali menulis dan belajar lagi.
Ada lelah, tentu. Tapi lelah yang tidak membuatku ingin menyerah.
Aku ingin hidup yang teratur.
Sibuk — tapi sibuk yang bermakna.
Bukan sibuk karena menghindar. Tapi sibuk karena punya tujuan.
Dan kalau boleh bermimpi lebih jauh, aku ingin lanjut studi ke luar negeri.
Mungkin Jepang. Mungkin Korea.
Bukan untuk jadi hebat di mata orang. Tapi karena aku ingin melesat… agar Ibu bisa rehat.
Aku ingin jadi tulang punggung yang bisa diandalkan.
Bukan hanya karena aku anak satu-satunya. Tapi karena aku ingin Ibu tahu, semua lelahnya tidak sia-sia.
Yoona…
Kamu mungkin tak akan pernah tahu kalau seseorang bernama Yuta tumbuh karena lagumu.
Tapi aku ingin kamu tahu — walaupun hanya lewat tulisan ini — bahwa kamu telah membantu seorang gadis untuk tidak menyerah.
Dan sekarang, aku ingin melakukan hal yang sama.
Menulis. Bercerita. Menyampaikan.
Karena kalau satu tulisan bisa membuat seseorang berhenti melukai dirinya sendiri,
maka aku akan menulis selamanya.
Aku ingin jadi seperti kamu. Tapi dengan caraku sendiri.
Aku ingin jadi seperti kamu yang membuat orang merasa dilihat. Tapi bukan dari atas panggung. Dari dalam hati.
📍 Catatan Hari Ini:
"Aku tidak ingin sempurna.
Aku hanya ingin menjadi seseorang yang tidak menyerah pada hidup, bahkan ketika hidup tak pernah memihak."
Komentar
Posting Komentar