– Rumah yang Tak Pernah Utuh
"Some people are born in houses. Others spend their lives searching for what 'home' really means."
Aku lahir dari keluarga yang tidak pernah benar-benar utuh.
Bahkan sebelum aku sempat menyebut kata “Ayah”, beliau sudah menikah lagi —
dan sejak itu, hidup kami berjalan di dua dunia yang berbeda:
satu di mana beliau membangun keluarga barunya,
dan satu lagi di mana aku harus belajar untuk tidak bertanya tentangnya.
Ibuku tidak punya banyak pilihan.
Beliau harus merantau, bekerja, menanggung semuanya seorang diri.
Bukan cuma untuk aku — tapi juga untuk kedua orang tuanya, yang sudah lanjut usia.
Karena itulah, sejak kecil aku dibesarkan oleh Nenek dan Kakek.
Rumah kami tenang. Tapi juga sunyi.
Aku tumbuh dengan doa dan pengorbanan — bukan dengan pelukan dan kebersamaan.
Lalu suatu hari, Ibu menikah lagi.
Kupikir mungkin kehidupan kami akan berubah. Mungkin aku akan punya sosok ayah.
Tapi ternyata, yang datang bukan ayah… hanya seseorang yang tinggal di rumah kami, tapi tidak pernah benar-benar melihatku.
Ayah tiriku tidak menganggapku ada.
Aku seperti bayangan yang kebetulan tinggal di tempat yang sama.
Tidak ada panggilan. Tidak ada perhatian.
Dan tidak ada ruang untukku menjadi seorang anak.
Aku mulai menyimpan semuanya dalam diam.
Sampai akhirnya, aku mulai menyakiti diriku sendiri.
Pelan. Diam.
Tanpa suara.
Aku melukai tubuhku. Membuat goresan-goresan kecil.
Dan ketika darah keluar, aku merasa puas.
Ada rasa aneh yang muncul — seolah-olah aku akhirnya berhasil “mengeluarkan” semua sakit yang tidak bisa kuterjemahkan dengan kata.
Bukan karena aku ingin mati.
Tapi karena aku ingin tahu… apakah aku masih hidup.
Aku tidak pernah bercerita ke siapa-siapa.
Bahkan saat itu, aku juga belum paham kenapa aku melakukan itu.
Aku hanya merasa kosong. Tidak dilihat. Tidak penting.
Dan saat kamu tidak dianggap nyata oleh siapa pun… kamu mulai bertanya,
“Untuk apa aku ada?”
Aku ingin kuliah. Tapi aku tahu aku tidak bisa langsung melangkah.
Aku gap year. Satu tahun yang panjang.
Satu tahun yang membuatku benar-benar merasa tidak diinginkan.
Aku harus mencari uang sendiri untuk daftar kuliah.
Sementara di rumah, aku semakin terasa seperti beban yang tidak punya tempat.
Ayah tiri tetap diam. Ibu mulai kelelahan — pada hidup, pada suami yang makin menjauh, dan mungkin… pada dirinya sendiri.
Tahun ketiga pernikahan mereka, semuanya hancur.
Ayah tiriku selingkuh. Menikah diam-diam.
Dan Ibu — sekali lagi — memilih untuk sendiri.
Kali ini, tidak ada Kakek yang bisa mendampingi kami.
Beliau sudah pergi selamanya.
Yoona...
Di tengah semua itu, aku mulai mendengarkan lagumu.
Awalnya karena iseng. Tapi lama-lama… karena butuh.
Suara kamu seperti ruang yang tidak pernah kupunya.
Kata-katamu seperti pelukan yang tidak datang dari siapa pun.
Aku nulis ke kamu diam-diam.
Seolah kamu bisa dengar. Padahal aku tahu kamu gak kenal aku.
Tapi mungkin karena kamu gak kenal, kamu bisa terasa lebih jujur, lebih hangat, lebih netral.
Kamu bilang:
"Even if I fall again, I’ll be okay."
Dan malam itu… aku menangis. Bukan karena sedih. Tapi karena pertama kalinya aku merasa: mungkin aku masih bisa baik-baik saja.
Sekarang aku tahu:
kalau aku bisa menyakiti diriku sendiri… maka aku juga bisa mencoba menyembuhkannya.
Dan pelan-pelan, aku mulai mencari sesuatu yang lebih besar dari luka.
Sesuatu yang tetap bersamaku, bahkan saat semua orang memilih pergi.
Dan itulah saat aku bertemu kalam-Nya.
Suara yang lebih sunyi dari dunia, tapi lebih kuat dari kesepian mana pun.
📍 Catatan Hari Ini:
"Luka ini nyata. Tapi aku juga nyata.
Dan aku masih di sini — bukan karena gak pernah jatuh, tapi karena gak pernah berhenti bangkit."
Komentar
Posting Komentar