Aku Menyadari Sesuatu tentang "Kuat"
Dunia sedang diam. Lampu-lampu kota sudah lelah, jalanan sepi, suara jangkrik sesekali mampir dari celah jendela. Dan aku masih terjaga, menatap atap kamar seperti sedang menunggu sesuatu yang entah datang dari mana.
Pikiranku ribut sendiri. hatiku penuh hal yang belum sempat kutanyakan… bahkan kepada diriku sendiri. Dan tiba-tiba aku sadar sesuatu
Aku sering disebut kuat.
Tapi entah sejak kapan aku mulai ragu... Soal hidup, soal jadi perempuan mandiri, soal kuat... atau pura-pura kuat.
Aku pernah bangga menyebut diriku mandiri. Aku pikir itu pencapaian. Bisa jalan sendiri, ambil keputusan sendiri, bahkan nangis pun sendiri, lalu besoknya senyum lagi, seperti gak ada yang pernah patah.
Tapi sekarang, setelah banyak melewati semuanya.. aku mulai ragu dan bertanya, apakah aku benar-benar kuat ? Atau hanya karena sudah terbiasa?
Mungkin bukan aku yang hebat. Mungkin cuma gak ada yang bisa kuandalkan, jadi aku belajar menyelesaikan semuanya sendirian. Bukan karena aku pengen begitu, tapi karena gak ada jalan lain.
Dulu aku bangga karena bisa mikul semuanya sendiri. Tapi belakangan aku sadar..,
Itu bukan kekuatan...itu kebiasaan. Kebiasaan karena gak ada siapa-siapa. Kebiasaan karena gak ada tangan yang benar-benar bisa kuminta untuk ku genggam.
Pernah gak sih kamu ngerasa gini? Bangun tidur dengan pikiran berat, bukan karena hari ini susah, tapi karena kemarin belum sempat kamu cerita. Pernah gak sih kamu capek bukan karena kerjaan, tapi karena terlalu lama jadi satu-satunya yang bisa diandalkan?
Itu yang aku rasakan akhir-akhir ini. Kadang aku iri sama orang yang punya rumah, iri dengan mereka yang punya tempat aman. Aku gak pernah tahu bagaimana rasanya. Jadi aku belajar bilang ke diriku sendiri.
Gak apa-apa capek, asal jangan nyerah. Gak apa-apa lelah, asal masih mau lanjut.
Dan pagi ini, aku mau kasih ruang buat diriku bernapas. Untuk jujur dengan diriku sendiri. Untuk mengakui ternyata aku gak sekuat itu. Aku juga ingin dijaga.
Aku cuma terbiasa gak ada yang ngejagain. Cuma terbiasa gak punya tempat pulang. Semua tawa yang pura-pura, semua diam yang ternyata jerit yang mendalam. Aku tahu, ada hal-hal yang memang harus kujalani sendiri. Tapi tetap saja..,
Aku manusia—yang kadang ingin disentuh lembut oleh rasa aman. Bukan karena lemah, tapi karena manusiawi.
Meski begitu... aku juga belajar akan satu hal. Meski sendiri, aku gak sepenuhnya sendirian...
Ada Allah yang gak pernah tidur. Yang lihat aku nangis pelan-pelan di balik bantal. Yang tahu aku kuat bukan karena mampu, tapi karena gak punya pilihan lain selain terus jalan.
Aku tulis ini bukan buat orang lain. Tapi buat diriku di masa depan. Biar aku ingat, bahwa aku pernah bertahan di malam yang sunyi, dan tetap memilih hidup. Kalau suatu hari nanti hidupku terasa berat lagi, aku cuma mau bilang kediriku sendiri kalo..
Aku boleh lelah. Aku boleh menangis. Gapapaa.. bahkan saat aku gak merasa kuat, aku harus percaya dengan kekuatanku. Karena aku bukan cuma bertahan. Tapi aku juga belajar tumbuh di tengah sunyi.
***

Komentar
Posting Komentar