– Apa Artinya Pulang?
"Kadang pulang bukan ke rumah, tapi ke dirimu yang dulu hilang."
Dulu aku pikir, rumah adalah tempat di mana ada orang tua lengkap, dapur hangat, dan ruang tamu yang ramai di hari libur.
Tapi hidup mengajariku sesuatu yang lain.
Rumah ternyata… bisa menjadi tempat paling dingin, bahkan saat lampunya menyala.
Rumah bisa jadi tempat kamu ingin pergi, bukan kembali.
Aku pernah duduk di ruang makan tapi merasa tidak ada yang benar-benar melihatku.
Aku pernah berada di dalam rumah yang lengkap secara bangunan, tapi kosong secara perasaan.
Dan saat itu aku mulai mengerti: rumah bukan tempat. Tapi rasa.
Dan sejak itu, aku berhenti mengaitkan "rumah" dengan bangunan.
Karena bagiku, rumah bisa sesederhana:
– Doa Nenek waktu Subuh.
– Senyum Ibu walau lelah.
– Al-Qur’an yang menunggu dibuka.
– Atau, selembar catatan di dinding kamar bertuliskan: “Hari ini kamu hebat karena tidak menyerah.”
Aku mulai membangun rumahku sendiri.
Dalam diriku.
Sedikit demi sedikit.
Aku menata ulang nilai-nilai yang berserakan karena kehilangan dan penolakan.
Aku belajar bahwa pulang bisa berarti:
• berdamai dengan cerita masa lalu,
• memaafkan yang tidak pernah meminta maaf,
• dan menerima bahwa aku tetap layak dicintai, bahkan dengan luka yang belum sembuh sepenuhnya.
Dan di perjalanan itu, aku tahu… aku tidak bisa sendiri.
Aku ingin orang lain juga menemukan rumahnya.
Karena aku tahu betapa sakitnya hidup saat kamu merasa tidak punya siapa-siapa — bahkan saat kamu dikelilingi banyak orang.
Dan kalau ada yang bisa kulakukan, aku ingin menjadi penunjuk arah.
Bukan untuk mengarahkan ke rumah yang sama, tapi agar mereka tidak kehilangan jalannya sendiri.
Yoona…
Kadang aku ngebayangin,
gimana kalau aku bisa ngobrol langsung sama kamu?
Bukan sebagai fans. Tapi sebagai dua orang asing yang sama-sama pernah merasa gak punya arah.
Aku pengen cerita, bukan cuma soal kesuksesan kamu yang menginspirasi, tapi tentang aku…
yang tetap bertahan, meski dunia tidak memberikan jaminan.
Aku gak tahu apakah kamu akan mengerti ceritaku.
Tapi aku selalu percaya: rasa sakit itu punya bahasa universal.
Mungkin itu juga yang membuat lirik-lirikmu bisa menembus batas negara dan agama.
Kamu gak tahu apa-apa tentangku. Tapi kamu pernah menolongku tanpa sadar.
Dan untuk itu… aku ingin menjadi versi terbaik dari diriku, agar suatu hari aku bisa bilang:
“Aku bertahan, dan kamu salah satu alasannya.”
Sekarang aku mengerti…
Pulang bukan soal tempat.
Tapi tentang perasaan: diterima, dimengerti, dan diampuni.
Dan kalau aku bisa menulis buku ini, menyebarkan cinta-Nya, berbagi luka dan penyembuhan tanpa menggurui —
mungkin aku bisa menjadi rumah bagi orang lain juga.
Aku ingin menulis dengan jujur, bukan untuk jadi hebat, tapi agar yang membaca tahu bahwa mereka nggak sendiri.
Aku ingin jadi rumah, bahkan untuk orang-orang yang tidak tahu harus ke mana lagi.
Karena mungkin... setiap kita sedang dalam perjalanan pulang. Entah ke diri kita sendiri, atau ke Tuhan yang selalu menunggu kita kembali.
📍 Catatan Hari Ini:
"Aku masih belajar. Masih jatuh. Masih takut.
Tapi setidaknya, sekarang aku punya arah: pulang ke diri sendiri, dan pulang ke Allah."
Komentar
Posting Komentar