– Saat Kata-Kata Menjadi Rumah Bagi Orang Lain


"Aku tidak menulis karena aku pandai berkata-kata. Aku menulis karena aku pernah kehilangan suara."


Awalnya, aku menulis untuk bertahan.
Menulis agar isi kepalaku tidak meledak.
Agar luka-luka di dalam diriku tidak berubah jadi racun yang merusak semuanya.
Agar aku bisa menyampaikan rasa tanpa harus menjelaskan semuanya pada dunia yang terlalu ramai.

Tapi suatu hari aku sadar…
mungkin ada orang lain di luar sana, yang merasa sepertiku.
Yang duduk diam di kamarnya sendiri.
Yang menangis di dalam kamar mandi, lalu keluar dengan senyum palsu.
Yang sudah lupa caranya bicara jujur karena takut tak ada yang mau mendengar.

Dan mungkin… tulisan-tulisanku bisa menjadi jembatan.
Untuk menghubungkan mereka dengan harapan yang pernah kutemukan.
Untuk menyampaikan bahwa: "Hei, kamu tidak sendirian. Aku pun pernah ada di sana."


Aku ingin menulis bukan sebagai orang yang sudah sembuh,
tapi sebagai orang yang masih berdarah, tapi tetap jalan.
Karena aku percaya: luka tidak harus hilang dulu untuk bisa jadi pelajaran bagi orang lain.

Aku tidak ingin jadi pahlawan. Aku hanya ingin jadi suara yang hadir ketika orang lain merasa tidak punya siapa-siapa.
Seperti yang dulu kutemukan dalam lagu-lagu BTS — yang tidak menawarkan solusi, tapi menawarkan pelukan.
Dan pelukan itu… menyelamatkanku.

Sekarang, aku ingin jadi pelukan itu juga. Lewat kata-kata.


Yoona…

Kalau suatu hari kamu membaca tulisanku,
aku ingin kamu tahu:
Kamu pernah menolong seseorang tanpa tahu.
Kamu pernah jadi teman sunyi yang tak terlihat.
Kamu membuat seseorang yang jauh di negara lain bertahan satu hari lagi — hanya karena satu lirikmu.

Tapi sekarang, aku ingin jadi seperti itu juga —
bukan hanya pengagum, tapi seseorang yang bisa menyelamatkan orang lain lewat kata.

Aku tidak punya banyak pengikut.
Aku tidak punya panggung.
Tapi aku punya pena, hati, dan niat yang sungguh-sungguh.

Dan itu cukup.

Karena aku percaya: satu kalimat jujur, yang ditulis dengan luka dan doa, bisa lebih kuat dari seribu suara kosong.


Sekarang aku menulis bukan hanya untuk menyembuhkan diriku,
tapi untuk memeluk orang-orang yang pernah merasa tak layak dicintai.
Yang merasa tidak cukup baik, tidak cukup kuat, tidak cukup apa-apa.
Yang merasa dunia hanya akan menghargai mereka jika sudah berhasil — padahal yang paling penting adalah: mereka masih hidup.

Tulisan ini bukan ajakan untuk menjadi sempurna.
Tapi undangan untuk bertahan.
Dan kalau bisa… pelan-pelan bertumbuh.

Karena kalau aku bisa bertahan, kamu juga bisa.
Kalau aku bisa berubah dari seseorang yang menyakiti diri sendiri menjadi seseorang yang menulis untuk menyembuhkan,
maka siapa pun punya peluang untuk sembuh.

Tulisan bukan obat mujarab. Tapi kadang, tulisan adalah teman terakhir sebelum seseorang menyerah.
Dan jika aku bisa menjadi teman itu — aku akan terus menulis.



📍 Catatan Hari Ini:
"Kata-kata tak bisa menyelamatkan dunia.
Tapi jika satu kalimat saja bisa membuat satu orang membatalkan niat untuk menyerah,
maka aku akan terus menulis."

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Menyadari Sesuatu tentang "Kuat"

– Rumah yang Tak Pernah Utuh

– Saat Aku Memilih Bertumbuh