– Bertemu Kalam-Nya
"Terkadang, bukan kamu yang mencari cahaya. Tapi cahaya yang datang menghampiri saat kamu paling gelap."
Waktu itu aku sedang tidak mencari Tuhan.
Aku sedang sibuk bertahan. Sibuk menahan tangis. Sibuk menyembunyikan luka-luka yang tak terlihat.
Aku tidak sedang merasa dekat dengan apa pun yang suci.
Tapi ternyata… justru pada saat seperti itu, Allah memelukku duluan.
Aku mulai membuka mushaf karena tidak tahu harus bagaimana.
Bukan karena aku rajin. Bukan karena aku alim. Tapi karena aku ingin menyibukkan diri dengan sesuatu yang tidak menyakitiku balik.
Satu ayat. Dua ayat.
Lalu entah bagaimana, aku merasa… kalimat-kalimat itu sedang berbicara langsung padaku.
Bukan untuk menasihati, tapi untuk menenangkan.
Seperti suara halus yang berkata:
"Aku tahu kamu lelah. Tapi Aku selalu di sini."
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku menangis bukan karena luka… tapi karena haru.
Ternyata ada sesuatu yang bisa menyentuh hatiku tanpa menyakitinya.
Dan sejak malam itu, aku mulai membuka mushaf bukan karena ingin lari, tapi karena aku ingin pulang.
Lalu aku mulai menghafal.
Bukan karena ingin jadi hafizah dulu,
tapi karena aku ingin punya sesuatu yang tetap bersamaku… bahkan saat aku tidak membawa apa-apa.
Aku ingin ada suara yang bisa kuajak bicara dalam hati, saat dunia terlalu bising atau terlalu sepi.
Di dunia yang sering memperlakukanku seperti orang asing,
aku ingin ada sesuatu yang memelukku dari dalam.
Dan semakin aku menghafal, semakin aku merasa... aku bukan sendirian.
Ayat demi ayat seperti mengisi rongga kosong yang selama ini tak bisa ditambal oleh apa pun.
Bukan hanya menenangkan — tapi juga menguatkan.
Suatu malam aku menulis ini di halaman belakang buku tulisku:
“Ya Allah… aku ingin mencintai-Mu tanpa syarat.Bukan karena hidupku indah. Tapi karena Engkau tetap bersamaku, bahkan saat hidupku berantakan.”
Aku baca ulang kalimat itu berkali-kali.
Dan rasanya seperti janji. Bukan janji besar. Tapi janji yang paling tulus yang pernah kubuat — kepada Diri-Nya.
Murojaah menjadi tempatku untuk kembali ke diriku sendiri.
Saat ayat-ayat itu mengalir dari lisanku, aku merasa seperti sedang menyusun ulang hatiku — dari puing-puing menjadi bentuk baru.
Masih rapuh. Tapi lebih jujur.
Dan aku mulai sadar: mungkin aku tidak ditakdirkan punya rumah yang sempurna,
tapi aku punya kalam yang membuatku merasa: aku diizinkan pulang.
Yoona…
Aku tetap mendengarkan musikmu. Tapi sekarang, aku juga punya tempat pulang yang lebih dalam.
Lucunya, aku merasa kamu dan Kalam-Nya tidak saling bertentangan.
Kamu menyentuhku lewat lagu. Tapi Allah menyembuhkanku lewat wahyu.
Dan mungkin... aku bisa berdiri hari ini,
karena keduanya — kamu, dan Dia — datang pada saat yang sama: saat aku nyaris hilang.
Aku jadi berpikir… kalau lagu bisa menenangkan, dan ayat bisa menyembuhkan,
mungkin… aku juga bisa menulis sesuatu yang jadi pelukan untuk orang lain.
📍 Catatan Hari Ini:
"Tuhan tidak menunggu kita menjadi baik dulu, baru Dia datang.
Terkadang, Dia datang... agar kita mulai percaya bahwa kita masih layak diselamatkan."
Komentar
Posting Komentar