– Rencana yang Kupeluk Diam-Diam


"Beberapa mimpi tak perlu teriak keras-keras. Mereka tumbuh diam-diam, tapi tak bisa dihentikan."



Aku mulai menyusun mimpi, pelan-pelan.
Tidak untuk dipamerkan. Tapi untuk kupeluk dalam hati.
Karena aku tahu, tidak semua orang mengerti kenapa aku masih berani bermimpi…
padahal hidup saja belum tentu stabil.

Aku ingin lanjut kuliah.
Ke Jepang, mungkin.
Atau Korea. Tapi Jepang terasa lebih mungkin.
Bukan karena aku ingin kabur, tapi karena aku ingin membuktikan bahwa anak perempuan broken home pun berhak ke luar negeri — bukan untuk liburan, tapi untuk belajar, bekerja, dan bangkit.

Bukan ingin lari dari luka. Tapi ingin menjemput versi terbaik dari diri ini. Yang lebih tangguh. Lebih lembut. Dan lebih yakin, bahwa masa lalu tidak bisa menghapus masa depan.


Aku ingin hidup yang sibuk, tapi berkah.
Pagi-pagi hafalan. Siang kuliah. Sore kerja sambilan.
Malam? Menulis. Menyapa diriku sendiri. Murojaah sambil menangis pelan-pelan.
Lalu esok harinya, mengulang semuanya… bukan karena lelah, tapi karena ini hidup yang kupilih.

Aku tidak mau hidup yang serba santai tapi kosong.
Aku ingin jadi orang yang bergerak.
Yang membangun sesuatu.
Yang bisa membantu Ibu pensiun dengan tenang,
dan bisa jadi pelindung bagi diriku sendiri — yang dulu selalu mencari tempat aman.

Karena aku tahu, tidak ada yang akan menyelamatkanku… selain aku sendiri. Dan Allah, tentu. Yang selalu datang bahkan sebelum aku memanggil-Nya.


Kadang aku mikir…
aku ingin hidup kayak Yoona.
Tidak harus dikenal dunia, tapi cukup dikenal oleh orang-orang yang merasa ditolong oleh kehadiran kita.

Dia tidak banyak bicara. Tapi tulisannya, musiknya, caranya berdiri diam pun… sudah mengubah ribuan orang.

Aku juga ingin seperti itu.
Mungkin lewat buku.
Mungkin lewat karya.
Atau mungkin… lewat hidup yang tetap lembut, meski sudah sering dilukai.

Aku tidak ingin bersinar seperti lampu sorot.
Aku ingin bercahaya seperti lilin. Diam. Tapi menerangi. Bahkan jika harus meleleh pelan-pelan.


Aku tidak ingin jadi pahlawan.
Aku cuma ingin jadi orang baik yang bisa diingat karena kebaikan kecilnya.
Yang kalau suatu hari bertemu Yoona — bisa berdiri sejajar, bukan sebagai fans yang minta tanda tangan,
tapi sebagai dua orang yang pernah sama-sama menyembuhkan diri, dan menyembuhkan orang lain.

Aku tidak perlu dikenang dunia. Cukup ada satu orang yang bisa berkata:
"Aku bertahan karena sempat membaca tulisanmu."

Maka untuk itu… aku akan terus menulis.
Dan bermimpi. Diam-diam. Tapi sungguh-sungguh.



📍 Catatan Hari Ini:
"Mimpiku bukan untuk disorot. Tapi untuk dijalani dengan sepenuh hati — dan diam-diam menginspirasi seperti yang pernah dilakukan oleh mereka yang aku kagumi."

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Menyadari Sesuatu tentang "Kuat"

– Rumah yang Tak Pernah Utuh

– Saat Aku Memilih Bertumbuh