Postingan

– Kalau Aku Bisa Bicara Kepada Diriku di Masa Depan

Gambar
"Aku menulis surat ini, bukan untuk memastikan semuanya akan baik-baik saja. Tapi untuk mengingatkanmu bahwa kamu sudah sampai sejauh ini." Hai, Yuta. Apa kabarmu di masa depan? Apakah kamu sudah lulus? Sudah di Jepang? Sudah bertemu teman-teman baru? Atau mungkin kamu sedang di perpustakaan, menyusun arsip, sambil sesekali tersenyum karena teringat masa-masa kamu dulu menulis ini dengan air mata? Aku tidak tahu di mana kamu saat ini, tapi aku harap kamu masih menjaga hafalanmu. Aku harap kamu masih berpegang pada cinta Allah, bahkan saat dunia berubah. Dan aku harap… kamu masih menulis. Karena dulu, satu-satunya yang membuatku bertahan adalah: keyakinan bahwa kamu — versi masa depan ini — sedang menungguku. Menungguku untuk tidak menyerah. Menungguku untuk terus melangkah. Kalau suatu hari kamu merasa lelah, ingat ya: kamu pernah bertahan saat hidupmu gelap dan hancur. Kamu pernah menangis sendirian di kamar, sambil berbisik ke Allah, "Aku capek, tapi aku tahu Engkau ma...

– Rencana yang Kupeluk Diam-Diam

Gambar
"Beberapa mimpi tak perlu teriak keras-keras. Mereka tumbuh diam-diam, tapi tak bisa dihentikan." Aku mulai menyusun mimpi, pelan-pelan. Tidak untuk dipamerkan. Tapi untuk kupeluk dalam hati. Karena aku tahu, tidak semua orang mengerti kenapa aku masih berani bermimpi… padahal hidup saja belum tentu stabil. Aku ingin lanjut kuliah. Ke Jepang, mungkin. Atau Korea. Tapi Jepang terasa lebih mungkin. Bukan karena aku ingin kabur, tapi karena aku ingin membuktikan bahwa anak perempuan broken home pun berhak ke luar negeri — bukan untuk liburan, tapi untuk belajar, bekerja, dan bangkit. Bukan ingin lari dari luka. Tapi ingin menjemput versi terbaik dari diri ini. Yang lebih tangguh. Lebih lembut. Dan lebih yakin, bahwa masa lalu tidak bisa menghapus masa depan. Aku ingin hidup yang sibuk, tapi berkah. Pagi-pagi hafalan. Siang kuliah. Sore kerja sambilan. Malam? Menulis. Menyapa diriku sendiri. Murojaah sambil menangis pelan-pelan. Lalu esok harinya, mengulang semuanya… bukan karena...

– Apa Artinya Pulang?

Gambar
"Kadang pulang bukan ke rumah, tapi ke dirimu yang dulu hilang." Dulu aku pikir, rumah adalah tempat di mana ada orang tua lengkap, dapur hangat, dan ruang tamu yang ramai di hari libur. Tapi hidup mengajariku sesuatu yang lain. Rumah ternyata… bisa menjadi tempat paling dingin, bahkan saat lampunya menyala. Rumah bisa jadi tempat kamu ingin pergi, bukan kembali. Aku pernah duduk di ruang makan tapi merasa tidak ada yang benar-benar melihatku. Aku pernah berada di dalam rumah yang lengkap secara bangunan, tapi kosong secara perasaan. Dan saat itu aku mulai mengerti: rumah bukan tempat. Tapi rasa. Dan sejak itu, aku berhenti mengaitkan "rumah" dengan bangunan. Karena bagiku, rumah bisa sesederhana: – Doa Nenek waktu Subuh. – Senyum Ibu walau lelah. – Al-Qur’an yang menunggu dibuka. – Atau, selembar catatan di dinding kamar bertuliskan: “Hari ini kamu hebat karena tidak menyerah.” Aku mulai membangun rumahku sendiri. Dalam diriku. Sedikit demi sedikit. Aku menata ulan...

– Saat Aku Memilih Bertumbuh

Gambar
"Kita tidak bisa memilih masa lalu. Tapi kita bisa memilih apakah kita tetap tinggal di dalamnya." Hidup tidak langsung membaik setelah aku mulai menghafal. Masalah masih ada. Aku tetap harus cari uang sendiri. Aku tetap tinggal bersama Ibu yang juga terus berjuang. Tapi ada sesuatu yang mulai berubah: cara pandangku terhadap hidup. Aku mulai merasa… mungkin aku bisa menciptakan jalan sendiri. Mungkin aku tidak harus jadi "anak korban" selamanya. Mungkin aku bisa memilih bertumbuh — bukan hanya untuk mengejar mimpi, tapi untuk menunaikan cinta kepada Ibu yang tak pernah berhenti berjuang untukku. Setelah masa gap year yang sunyi dan penuh pertanyaan, aku memutuskan untuk daftar kuliah. Modalnya? Keberanian. Dan sedikit sekali uang tabungan yang kukumpulkan sendiri. Aku daftar di jurusan Perpustakaan dan Sains Informasi . Banyak yang mencibir, bahkan yang dekat denganku pun sempat bertanya, "Itu jurusan apa? Bisa jadi apa?" Tapi aku tahu alasanku. Bagi seb...

– Bertemu Kalam-Nya

Gambar
"Terkadang, bukan kamu yang mencari cahaya. Tapi cahaya yang datang menghampiri saat kamu paling gelap." Waktu itu aku sedang tidak mencari Tuhan. Aku sedang sibuk bertahan. Sibuk menahan tangis. Sibuk menyembunyikan luka-luka yang tak terlihat. Aku tidak sedang merasa dekat dengan apa pun yang suci. Tapi ternyata… justru pada saat seperti itu, Allah memelukku duluan. Aku mulai membuka mushaf karena tidak tahu harus bagaimana. Bukan karena aku rajin. Bukan karena aku alim. Tapi karena aku ingin menyibukkan diri dengan sesuatu yang tidak menyakitiku balik. Satu ayat. Dua ayat. Lalu entah bagaimana, aku merasa… kalimat-kalimat itu sedang berbicara langsung padaku. Bukan untuk menasihati, tapi untuk menenangkan. Seperti suara halus yang berkata: "Aku tahu kamu lelah. Tapi Aku selalu di sini." Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku menangis bukan karena luka… tapi karena haru. Ternyata ada sesuatu yang bisa menyentuh hatiku tanpa menyakitinya. Dan sejak mala...

– Rumah yang Tak Pernah Utuh

Gambar
"Some people are born in houses. Others spend their lives searching for what 'home' really means." Aku lahir dari keluarga yang tidak pernah benar-benar utuh. Bahkan sebelum aku sempat menyebut kata “Ayah”, beliau sudah menikah lagi — dan sejak itu, hidup kami berjalan di dua dunia yang berbeda: satu di mana beliau membangun keluarga barunya, dan satu lagi di mana aku harus belajar untuk tidak bertanya tentangnya. Ibuku tidak punya banyak pilihan. Beliau harus merantau, bekerja, menanggung semuanya seorang diri. Bukan cuma untuk aku — tapi juga untuk kedua orang tuanya, yang sudah lanjut usia. Karena itulah, sejak kecil aku dibesarkan oleh Nenek dan Kakek. Rumah kami tenang. Tapi juga sunyi. Aku tumbuh dengan doa dan pengorbanan — bukan dengan pelukan dan kebersamaan. Lalu suatu hari, Ibu menikah lagi. Kupikir mungkin kehidupan kami akan berubah. Mungkin aku akan punya sosok ayah. Tapi ternyata, yang datang bukan ayah… hanya seseorang yang tinggal di rumah kami, tapi ...