Postingan

Di Saat Sayapku Patah, Ada Allah yang Memapah

Gambar
Untuk Allah .,Yang tak pernah menjauh, meski aku yang sering lupa pulang. Aku pernah merasa dunia terlalu sempit untuk menampung air mataku. Pernah merasa tubuh ini terlalu kecil untuk menahan beban yang datang bertubi-tubi. Pernah terdiam lama di sudut kamar, dan bertanya dalam hati., Ya Allah… masihkah Engkau mendengar aku? Saat itu, aku tak sedang berdoa dengan indah. Bahkan mungkin aku tak berdoa sama sekali. Aku hanya menangis dalam sunyi, dalam keadaan lalai, dalam kondisi tak layak menghadap-Nya. Tapi justru di situlah Engkau hadir, bukan dalam bentuk suara, bukan dalam mimpi, tapi dalam rasa yang sulit dijelaskan, rasa bahwa aku tidak sendiri. Masalah datang satu per satu. Seperti badai yang tak memberi jeda. Aku terseret, terjatuh, dan merasa hancur dalam senyap. Ada titik di mana aku ingin menyerah, ingin berhenti mencoba, karena rasanya… untuk apa semua ini? Namun Allah Maha Tahu. Di balik semua yang tak kukatakan, Allah melihat isi hatiku yang tak sanggup aku sampaikan. All...

Aku Menyadari Sesuatu tentang "Kuat"

Gambar
17 Juli 2025, 02.11 dini hari... Dunia sedang diam. Lampu-lampu kota sudah lelah, jalanan sepi, suara jangkrik sesekali mampir dari celah jendela. Dan aku masih terjaga, menatap atap kamar seperti sedang menunggu sesuatu yang entah datang dari mana. Pikiranku ribut sendiri. hatiku penuh hal yang belum sempat kutanyakan… bahkan kepada diriku sendiri. Dan tiba-tiba aku sadar sesuatu Aku sering disebut kuat. Tapi entah sejak kapan aku mulai ragu... Soal hidup, soal jadi perempuan mandiri, soal kuat... atau pura-pura kuat. Aku pernah bangga menyebut diriku mandiri. Aku pikir itu pencapaian. Bisa jalan sendiri, ambil keputusan sendiri, bahkan nangis pun sendiri, lalu besoknya senyum lagi, seperti gak ada yang pernah patah. Tapi sekarang, setelah banyak melewati semuanya.. aku mulai ragu dan bertanya, apakah aku benar-benar kuat ? Atau hanya karena sudah terbiasa? Mungkin bukan aku yang hebat. Mungkin cuma gak ada yang bisa kuandalkan, jadi aku belajar menyelesaikan semuanya sendirian. Bukan...

Mimpiku Masih Ada, Meski Aku Lelah

Gambar
Aku nulis ini sambil rebahan, haha.. Sumpah, rasanya kayak badan udah capek, tapi pikiran masih lari ke mana-mana. Banyak hal yang aku pikirin… terutama soal mimpi yang dari dulu nggak pernah benar-benar padam. Aku pengen lanjut S2 ke Jepang. Bukan karena pengen keren-kerenan. Nggak!!. Tapi karena aku punya satu mimpi yang sampai sekarang masih terasa hangat di hati.., 

– Surat Terakhir untuk Yoona, dan Diriku Sendiri

Gambar
"Terima kasih karena telah menjadi alasan aku bertahan. Tapi sekarang… aku ingin bertahan karena diriku sendiri." Untuk Yoona… Aku tidak tahu apakah surat ini akan sampai padamu. Mungkin tidak. Tapi menuliskannya saja sudah cukup menenangkan. Dulu, aku ingin kamu tahu bahwa aku ada. Sekarang, aku ingin kamu tahu bahwa aku tumbuh. Bukan karena kamu menyelamatkanku. Tapi karena kamu menjadi pengingat bahwa manusia pun bisa menjadi perantara cahaya. Aku tidak tahu bagaimana hidupmu sebenarnya. Tapi aku percaya, kamu juga pernah merasa gelap. Dan justru karena itu, kamu bisa menciptakan sesuatu yang menyentuh begitu banyak orang, termasuk aku. Kini, aku ingin jadi seperti itu juga. Tidak harus bersinar paling terang, tapi cukup menjadi cahaya bagi satu orang yang hampir padam. Terima kasih, Yoona. Untuk keberanianmu menjadi dirimu sendiri. Untuk semua lagu, kata, dan sikap tenangmu yang mendidik tanpa menggurui. Jika suatu hari kita bertemu — entah sebagai siapa — aku harap kita ...

– Antara Aku, Allah, dan Jalan yang Kutempuh

Gambar
"Segala hal yang hilang… sebenarnya sedang diarahkan kembali kepada-Nya." Aku sudah berkali-kali kehilangan. Ayah. Kakek. Rasa aman. Bahkan kepercayaan terhadap diriku sendiri pun pernah hilang. Tapi semakin aku jatuh, semakin aku sadar: Allah tidak pernah benar-benar meninggalkanku. Aku hanya yang terlalu sibuk mencari pelukan di luar, sampai lupa bahwa tempat paling tenang adalah sujud. Dan di titik paling gelap dalam hidupku, ketika aku bahkan sempat menyakiti tubuhku sendiri… ada satu suara yang tetap bertahan: suara lantunan ayat yang dulu sering kubaca bersama Nenek. Allah tidak pernah berteriak agar aku kembali. Dia hanya menunggu. Dengan sabar. Dengan lembut. Dengan cara yang tidak manusia manapun bisa lakukan. Lewat lagu-lagu yang tiba-tiba menenangkan. Lewat air mata di malam-malam yang aku pikir hampa. Lewat teman-teman baru yang seperti dikirim dari langit. Dan kadang… lewat kalimatku sendiri yang kutulis tanpa sadar — tapi terasa seperti doa yang ditulis balik ol...

– Saat Aku Mulai Dilihat Bukan Sekadar Fans

Gambar
  "Aku tidak ingin sekadar berada di dekat mereka. Aku ingin mereka tahu… aku tumbuh karena mereka." Ada bagian dari diriku yang masih gadis kecil. Yang berdebar setiap kali melihat cuplikan konser. Yang berkhayal bisa ketemu langsung, ngobrol sebentar, atau hanya cukup dilirik dan diingat. Dan aku tidak malu mengakuinya. Tapi semakin aku dewasa, semakin aku tahu… aku tidak ingin hanya menjadi penonton. Aku ingin berdiri di atas panggungku sendiri. Entah sebagai penulis, pustakawan, pendidik, atau apa pun nanti yang Allah kehendaki. Aku ingin punya ruang, punya suara, dan suatu hari… punya pertemuan yang tidak lagi satu arah. Dulu aku suka bilang ke diriku sendiri: "Bayangkan kalau Biasmu tahu kamu ada." Tapi sekarang, aku lebih suka bilang: "Bayangkan kalau kamu bisa berdiri di depannya, dan dia tersenyum — bukan karena kamu penggemar, tapi karena kamu seseorang yang layak dia hargai." Bukan karena kamu cantik. Bukan karena kamu viral. Tapi karena kamu me...

– Saat Kata-Kata Menjadi Rumah Bagi Orang Lain

Gambar
"Aku tidak menulis karena aku pandai berkata-kata. Aku menulis karena aku pernah kehilangan suara." Awalnya, aku menulis untuk bertahan. Menulis agar isi kepalaku tidak meledak. Agar luka-luka di dalam diriku tidak berubah jadi racun yang merusak semuanya. Agar aku bisa menyampaikan rasa tanpa harus menjelaskan semuanya pada dunia yang terlalu ramai. Tapi suatu hari aku sadar… mungkin ada orang lain di luar sana, yang merasa sepertiku. Yang duduk diam di kamarnya sendiri. Yang menangis di dalam kamar mandi, lalu keluar dengan senyum palsu. Yang sudah lupa caranya bicara jujur karena takut tak ada yang mau mendengar. Dan mungkin… tulisan-tulisanku bisa menjadi jembatan. Untuk menghubungkan mereka dengan harapan yang pernah kutemukan. Untuk menyampaikan bahwa: "Hei, kamu tidak sendirian. Aku pun pernah ada di sana." Aku ingin menulis bukan sebagai orang yang sudah sembuh, tapi sebagai orang yang masih berdarah, tapi tetap jalan. Karena aku percaya: luka tidak harus hi...