Di Saat Sayapku Patah, Ada Allah yang Memapah
Aku pernah merasa dunia terlalu sempit untuk menampung air mataku. Pernah merasa tubuh ini terlalu kecil untuk menahan beban yang datang bertubi-tubi. Pernah terdiam lama di sudut kamar, dan bertanya dalam hati.,
Ya Allah… masihkah Engkau mendengar aku?
Saat itu, aku tak sedang berdoa dengan indah. Bahkan mungkin aku tak berdoa sama sekali. Aku hanya menangis dalam sunyi, dalam keadaan lalai, dalam kondisi tak layak menghadap-Nya. Tapi justru di situlah Engkau hadir, bukan dalam bentuk suara, bukan dalam mimpi, tapi dalam rasa yang sulit dijelaskan, rasa bahwa aku tidak sendiri.
Masalah datang satu per satu. Seperti badai yang tak memberi jeda. Aku terseret, terjatuh, dan merasa hancur dalam senyap. Ada titik di mana aku ingin menyerah, ingin berhenti mencoba, karena rasanya… untuk apa semua ini?
Namun Allah Maha Tahu. Di balik semua yang tak kukatakan, Allah melihat isi hatiku yang tak sanggup aku sampaikan. Allah menyentuhku, bukan dengan tangan, tapi dengan petunjuk.
Entah bagaimana di saat aku bingung, Allah beri jalan. Di saat aku lemah, Allah kirim kekuatan dari arah yang tak terduga. Bahkan ketika aku tak meminta, Allah tetap memberi.
Aku malu, kepada Allah
Malu karena baru mencari-Nya saat terdesak.
Baru merindukan-Nya saat kehilangan.
Baru menangis kepada-Nya saat tak tahu harus mengadu ke siapa.
Tapi Allah tidak menolakku.
Allah tetap memapahku, meski aku sudah berkali-kali lupa jalan pulang.
Allah tidak pernah berkata, “Sudah terlambat.” Allah tidak pernah berkata, “Kenapa baru datang saat susah?” Allah hanya membuka jalan… dan menenangkanku.
Di saat sayapku patah, dan aku tak lagi bisa terbang, Allah tidak menertawakanku. Allah tidak menghakimiku. Allah justru memapahku perlahan, menuntunku berjalan, hingga aku mampu berdiri lagi.
Aku pikir cinta sejati hanya ada di dunia manusia. Tapi ternyata cinta yang paling utuh datang dari Zat yang tidak pernah menuntut, tidak pernah memaksa, tapi selalu menerima—meski aku datang dalam keadaan paling hina.
Aku belajar, bahwa ujian itu bukan kutukan. Bahwa luka bukan kehancuran. Bahwa kehilangan bukan akhir dari segalanya. Terkadang, itu cara Allah mengajakku pulang. Cara Allah mengajakku bersujud lebih dalam. Cara Allah menunjukkan bahwa hidup tanpa bergantung kepada-Nya adalah sia-sia.
Hari ini aku bersyukur, bukan karena hidupku sempurna, bukan karena masalahku hilang, tapi karena aku tahu… di balik semua luka dan kegelisahan, ada Allah yang tidak pernah lepas menggenggamku.
Aku bersyukur, karena aku tidak benar-benar hancur. Aku bersyukur, karena aku masih bisa berkata, "Alhamdulillah"—meski dengan air mata.
Untuk-Mu, ya Allah… aku persembahkan sisa tenagaku, sisa semangatku, dan sisa keyakinanku yang kadang redup. Aku tahu aku tak sempurna. Tapi aku ingin belajar percaya, bahwa dalam jatuhku, dalam bingungku, Engkau tetap bersamaku.
Terima kasih, ya Allah…karena di saat sayapku patah, Engkau tak membiarkanku merangkak sendirian. Engkau memapahku, pelan-pelan…sampai aku bisa berjalan lagi.
________________________________________________________________
📍Catatan hari ini :
"Ternyata patah itu bukan akhir. Kadang justru dari patah itu aku belajar untuk lebih peka, lebih sabar, dan lebih lembut pada diri sendiri. Hari ini aku tidak menuntut untuk sembuh seketika. Aku hanya ingin terus berjalan, pelan-pelan, bersama Allah yang memapahku dalam diam."
***

Komentar
Posting Komentar